cukup makan

maksimal - minimal

perempuan pintar seharusnya tidak mudah terbuai kata “maaf” lelaki

Posted in Tak Berkategori on January 6, 2010 by aritri

saya menulis blog ini sambil diiringi suara merdu James Blunt dengan single terlarisnya “You’re Beautiful”…uhuuuy serasa lagu itu dipersembahkan untuk saya seorang. Rasanya sudah lama sekali sejak seseorang menyanyikan lagu ini di depan saya, berasa paling cantik, paling disayang dsb. Yah namanya juga wanita, pasti senang dipuji lah.
hhhmm…lain lagi dengan sahabat saya yg satu ini, sama2 pernah gagal membangun rumah tangga, sama2 single parent yang juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan sama2 cantik (teteeup). Bahkan bisa dibilang dia jauh lebih “menarik” dibanding saya yg terbilang chubby ini. Ada satu hal yg sangat saya sayangkan dari sahabat saya ini, yaitu “rasa iba”nya yang berlebihan.
Dulu, ketika rumah tangga saya diterpa prahara dia tidak habis2nya membodohi saya dan mengatakan kalau saya ini TOLOL karena membiarkan mantan suami melenggang tanpa ada tanggung jawab. Memang dalam perceraian saya tidak meminta tunjangan bulanan dsb, seperti pernah saya tulis sebelumnya dia bahkan tidak pernah menafkahi saya sejak menikah. Biaya dokter waktu periksa hamil dan melahirkan pun saya sendiri lah yang pontang panting mencari, dia ongkang2 kaki saja. Tapi kok sepertinya sekarang terbalik ya??!!
Awal cerita bermula ketika si cantik (katakanlah begitu panggilannya) memulai hubungan dengan kekasihnya yg super posesif, dari awal berhubungan aja tuh cowo dah menunjukkan gejala2 phsyco. Singkat kata si cantik ditinggal kawin oleh kekasihnya yg agak gila itu, tp si cowo gak mau hubungan mereka putus. Bahkan beberapa kali dia mengancam akan bunuh diri bila si cantik meninggalkannya (basi banget kan tuh ancamannya?!?). Dari mulai mau menabrakkan diri di jalan tol, mencabut selang infus waktu di rawat di RS sampai menjatuhkan diri dari apartmentnya. Si cantik yang baik hati pun luluh, dia menempatkan kekasihnya sebagai orang nomor satu. Kadang dia menangis dan meratap sambil berkeluh kesah kepada saya (sebagai sesama wanita yang pernah terzhalimi). Karena kebetulan saya juga mengenal si cowo phsyco tersebut, jadi agak sedikit bingung mau bagaimana bersikap. Akhirnya saya coba bersikap non blok.
Namun rupanya rasa sayang si cantik tidak ditanggapi baik oleh sang kekasih, belakangan ini saya ketahui bahwa dia mulai sering berbuat kasar. Misalnya memukul, menampar, membanting barang2 si cantik…dan itu tentu saja sangat melukai hati. Akhirnya saya beranikan diri menasihati si cantik agar meninggalkan lelaki itu, toh dunia ini tidak selebar daun kelor. Apalagi dengan kecantikannya saya yakin banyak lelaki yang bersedia mendampingi. Terlebih lagi posisinya di kantor sekarang ini memungkinkannya bertemu dengan banyak orang. Sayangnya niat baik saya sebagai seorang teman untuk mengingatkan hanya ditanggapi setengah hati.
Si cantik bilang, sang kekasih menangis meraung2 dan memohon “maaf” serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. preeet…setau saya pemukulan dan kekerasan ini sudah yang ke-3 kalinya terjadi, apanya yg tidak akan diulangi coba?!?!
Saya heran, apakah wanita memang ditakdirkan harus selalu lemah lembut dan begitu baik hati…sampai2 tidak bisa membedakan mana yang bualan dan mana yang sejati. Kenapa wanita sepintar si cantik harus selalu kalah oleh kata “maaf” dari kekasihnya? Siapakah yang tolol disini, apakah saya yang dengan segala kegengsian mengajukan perceraian tanpa meminta sepeserpun uang pertanggung jawaban pada mantan suami untuk membiayai putri kami, OR si cantik yang baik hati karena selalu mampu memaafkan kesalahan kekasihnya???
Kita, para wanita diciptakan oleh Tuhan dengan segala kesempurnaan, kita dibuat cantik dan mempesona, disisipkan airmata untuk menjadikannya mahluk rapuh sekaligus kuat, dianugerahkan hati yang welas asih namun sekeras baja, namun kadang kita tidak menyadari “nilai” kita sendiri bila berhadapan dengan lelaki. Entah itu karena faktor cinta, harta atau bahkan sex…ada yang bisa bantu jawab mengapa?!?